-->

OBAT HIPERTENSI (DARAH TINGGI), OBAT APOTEK SAMPAI OBAT HERBAL

Posting Komentar
obat hipertensi


Sebelum kita bicara tentang obat hipertensi, kita harus mengetahui dulu pedoman-pedoman dasarnya.


Pedoman Umum Pengobatan Hipertensi


  1. Hipertensi secara medis belum bisa disembuhkan total


Ini adalah pasal pertama dan utama. Semua pasal berikutnya hanya penjelasan dari pasal ini. Hipertensi mirip diabetes, sama-sama belum bisa disembuhkan. Tapi hipertensi levelnya lebih ringan. Soal argumen bahwa Tuhan menciptakan penyakit pasti ada obatnya, silakan baca di Bab Obat Diabetes. 


Tidak ada satu pun obat yang bisa MENYEMBUHKAN hipertensi. Semua obat hipertensi, baik obat apotek maupun obat tradisional, hanya MENGENDALIKAN TEKANAN DARAH sementara. Ini harus kita sadari. Kalau kita sudah memahami ini, kita tidak akan mudah terbujuk dengan obat ini itu yang diklaim bisa menyembuhkan darah tinggi.


Kalau begitu, bagaimana dengan obat-obat tradisional untuk hipertensi? Silakan baca poin nomor 4. 


2. Hipertensi bisa dikendalikan dengan baik


Ini berita bagusnya. Walaupun hipertensi tidak bisa disembuhkan, tekanan darah relatif mudah dikendalikan. Bahkan penderitanya bisa sehat sampai lanjut usia. Caranya tentu saja adalah menjaga pola hidup yang sehat. 


3. Obat hipertensi harus diminum seumur hidup

Waduh, apakah tidak bahaya minum obat seumur hidup? Tentu saja akan ada efek buruknya. Tapi kalau obat tidak diminum rutin, justru lebih berbahaya. Sebab tekanan darah yang tidak terkontrol malah bisa meningkatkan kemungkinan serangan jantung dan stroke. Lebih baik mengatasi efek samping minum obat daripada kena stroke.


4. Semua obat hipertensi adalah obat resep


Obat hipertensi harus diminum terus-menerus. Agar efek buruknya bisa dihindari, maka pemilihannya harus benar-benar tepat, dosisnya harus benar-benar pas. Tidak kurang atau lebih. Yang bisa memilihkan jenis dan dosis ini hanya dokter. Kalau pasien sok tahu dan membeli obat sendiri, bisa jadi hipertensinya tidak terkendali dengan baik. Mungkin tekanan darahnya masih tinggi, atau turun terlalu rendah. 


5. Pasien boleh minum obat tradisional


Banyak obat tradisional terbukti bisa mengendalikan tekanan darah. Bahkan bisa menggantikan obat dokter. Jadi bisa saja kita seumur hidup hanya minum obat tradisional dan tidak minum obat dari dokter. 


Kalau Anda Lebih suka minum obat tradisional, sebaiknya pilih obat yang bahannya biasa kita konsumsi sehari-hari. Misalnya yang bahan bakunya rempah dapur seperti bawang putih dan seledri. Atau yang terbukti aman seperti kumis kucing.  


Obat hipertensi harus diminum jangka panjang. Kalau kita minum obat herbal yang “keras”, seperti sambiloto, buah merah, atau mahkota dewa, mungkin saja akan menimbulkan efek buruk dalam jangka panjang. Kita tidak tahu. Beda halnya kalau kita makan bawang atau seledri yang memang merupakan bahan pangan sehari-hari.

Obat Hipertensi di Apotek


Seperti yang sudah disebutkan di poin nomor 3 di atas, obat hipertensi adalah obat resep. Sebaiknya pasien tidak membelinya sendiri begitu saja. Sebab kalau salah jenis dan dosisnya, bisa jadi tekanan darahnya tidak terkontrol dengan baik. 


Di apotek ada banyak sekali obat hipertensi. Satu jenis obat ada puluhan merek. Dosisnya pun bermacam-macam. 


Beberapa yang penting antara lain:


  1. Amlodipine Besilate.

Tersedia dosis 5 mg dan 10 mg. Biasanya diminum 1 kali sehari. Amlodipine bekerja dengan cara melonggarkan pembuluh darah sehingga tekanan darah turun. Salah satu efek sampingnya kaki bengkak. Baca selengkapnya di Bab Amlodipine.


Contoh merek yang terkenal Norvask. Norvask adalah nama paten amlodipine buatan pabrik farmasi asal Amerika, Pfizer. Merek lain banyak yang meniru dengan nama berakhiran -vask. Contoh merek lain:  A-B Vask, Actapin, Amcor, Amdixal, Amlocor, Amlogrix, Caduet, Calsivas, Cardicap, Cardisan, Cardivask, Comdipin, Coveram, Divask, Dovask, Ertensi, Ethivask, Exforge, Fulopin, Gensia, Gracivask, Gravask, Hexavask, Intervask, Lodipas, Lopiten, Lovask, Normetec, Normoten, Pehavask, Provask, Sandovask, Stamotens, Tensivask, Theravask, Twynsta, Vasgard, Zevask.

  1. Captopril

Tersedia dosis 12,5 mg dan 25 mg. Biasanya diminum 2 atau 3 kali sehari. Diminum saat perut kosong. Cara kerjanya juga melonggarkan pembuluh darah sehingga tekanan darah turun. 


Captopril dan amlodipine adalah dua obat hipertensi yang sering diresepkan. Walaupun captopril kelihatannya sama dengan amlodipine, yakni sama melonggarkan pembuluh darah, sebetulnya keduanya berbeda. Ini terlalu rumit buat orang awam. Sekali lagi, kita sebaiknya tidak membeli sendiri obat hipertensi. Serahkan urusannya kepada dokter. 


Contoh merek: Capoten, Acendril, Acepress, Capozide, Captensin, Casipril, Dexacap, Farmoten, Forten, Inapril, Locap, Lotensin, Metopril, Otoryl, Praten, Scantensin, Tensicap, Tensobon, Tenovax, Tensobon, Vapril. 


Di samping kedua obat di atas, masih ada banyak jenis obat hipertensi. Secara garis besar, cara kerjanya ada dua. 


  1. Mengeluarkan cairan darah


Obat golongan ini memaksa kita sering kencing. Ketika cairan darah dikeluarkan, tekanan darah pun akan ikut turun. Karena menyebabkan sering kencing, obat golongan ini sebaiknya tidak diminum menjelang tidur. 


Contoh obat:


  1. Furosemide. Contoh merek: Lasix, Farsix, Classic, Diuvar, Edemin, Furosix, Gralixa, Impugan, Laveric, Naclex, Roxemid, Silax, Uresix. 

  2. Spironolakton. Contoh merek: Aldactone, Carpiaton, Letonal, Spirola, Spirolacton.

  3. Hidrokolorotiazid/HCT/hydrochlorothiazide. Biasanya obat ini digabung dengan obat hipertensi jenis lain. Contoh merek: Blopress Plus, Co-Diovan, Co-Irvebal, CoAprovel, Lodoz, Lorinid Mite, Micardis Plus, Olmetec Plus, Rasilez HCT.


2. Melonggarkan pembuluh darah dan pompa jantung


Di kategori ini juga ada banyak jenis obat. Misalnya yang berakhiran “-pril” sejenis captopril atau berakhiran “sartan”. 


  1. Lisinopril. Contoh merek: Zestoretic, Inhitril, Interpril, Linoxal, Noperten, Nopril, Odace, Tensinop, Tensiphar, Zestril.

  2. Enalapril. Contoh merek: Meipril, Renacardon, Tenaten, Tenace, Tenazide.

  3. Ramipril. Contoh merek: Triatec, Cardace, Decaparil, Hyperil, Ramixal, Redutens, Vivace, Tenapril.

  4. Losartan. Contoh merek: Cozaar, Acetensa, Angioten, Hyzaar, Insaar, Kaftensar, Koinsar, Lifezar, Sartaxal, Tensaar.

  5. Irbesartan. Contoh merek: Aprovel, Co-Irvebal, CoAprovel, Elzar, Fritens, Irbedox, Iretensa, Irtan, Irtan Plus, Irvell.

  6. Kandesartan. Contoh merek: Blopress, Blopress Plus, Canderin.

  7. Telmisartan. Contoh merek: Micardis, Micardis Plus.

  8. Valsartan. Contoh merek: Co-Diovan, Diovan, Exforge

  9. Atenolol. Contoh merek: Tenormin, Betablok, Hiblok, Internolol, Farnormin, Lotenac, Nif-Ten, Tenblok, Tenoret, Zumablok, Tensinorm

  10. Propanolol. Contoh merek: Inderal, Farmadral.

  11. Asebutolol. Contoh merek: Sectral, Sectrazide.

  12. Metoprolol. Contoh merek: Seloken, Lopresor, Loprolol.

  13. Bisoprolol. Contoh merek: Concor, Lodoz, B-Beta, Beta One, Biscor, Hapsen, Maintate, 

  14. Karvedilol. Contoh merek: Dilbloc, Blorec, Carbloxal, V-Bloc. 


Ini masih belum semua. Intinya, obat hipertensi itu macamnya sangat banyak. Tidak mungkin orang awam bisa memilih sendiri. Serahkan urusannya kepada dokter. 


Obat Hipertensi untuk Ibu Hamil atau Menyusui


Pada saat hamil, tekanan darah harus dijaga tetap normal. Tensi yang terlalu tinggi berbahaya buat kesehatan janin. Itu sebabnya ibu hamil yang punya hipertensi harus tetap minum obat. Obat harus dipilihkan oleh dokter untuk meminimalkan efek buruknya. 


Sekadar contoh saja, captopril bisa mengganggu pertumbuhan janin tapi nifedipin (saudaranya amlodipine) tidak. Obat hipertensi yang merangsang air kencing juga tidak disarankan karena bisa mengganggu cairan bumil. 


Pada ibu menyusui, pilihan obat hipertensi lebih longgar karena si bayi sudah lahir. Ada obat yang tidak boleh diminum saat hamil tapi boleh diminum saat menyusui. Urusan ini terlalu rumit buat orang awam. Serahkan saja urusan rumit ini ke dokter. Kita main Instagram saja.  


Efek Samping Obat Hipertensi


Tiap obat punya efek samping. Misalnya, batuk, diare, sembelit (sudah buang air besar), sakit kepala, pusing, badan letih, ruam kulit, sampai masalah ereksi. Ada yang ringan dan hilang dengan sendirinya. Ada yang sangat mengganggu. Gampangnya, tiap kali ada efek samping, laporkan ke dokter. Mungkin obatnya perlu diganti. Mungkin dosisnya perlu dikurangi. Atau obatnya dikombinasikan dengan obat lain. 


Obat Herbal untuk Hipertensi


Ada banyak pilihan obat herbal untuk hipertensi. Sama halnya seperti memilih obat apotek, pemilihan obat tradisional sebetulnya juga harus coba-coba dan diamati efeknya. Sebab satu obat herbal yang cocok buat seseorang bisa saja tidak cocok untuk orang lain. 


Sayangnya, untuk urusan obat tradisional ini, kita tidak bisa minta bantuan dokter. Sebagian besar dokter tidak menyarankan penggunaan obat tradisional. Mereka lebih suka meresepkan obat apotek. Ini mudah dimaklumi karena memang obat-obat kimia memiliki data penelitian sementara obat-obat herbal masih minim data penelitian. Di bangku kuliah, para calon dokter belajar tentang amlodipine, captopril, dan sejenisnya. 


Obat tradisional untuk hipertensi juga bisa mengontrol tekanan darah. Tapi efeknya sulit diperkirakan. Kalau kita mau mencoba obat tradisional, pedomannya:


  1. Kalau mau digabung dengan obat apotek, jangan lupa beritahu dokter.

Obat tradisional dan obat apotek sama-sama bisa menurunkan tekanan darah. Kalau dokter sudah memberi obat, lalu kita juga minum obat tradisional, maka tensi darah bisa turun terlalu rendah. Ini bahaya. 

  1. Pantau terus tensi darah.

Sebaiknya beli alat pengukur tensi darah sehingga kita bisa mengukurnya sendiri di rumah. Catat hasilnya di buku. Laporkan ke dokter. Alat tensimeter ada yang murah, Rp 150.000 rupiah seperti merek Omicron. Ada juga yang lebih bagus, merek Omron, Rp 460.000.  

  1. Pantau efek sampingnya.

Efek samping obat herbal macam-macam dan lebih sulit diprediksi daripada obat apotek. Biasanya efek samping obat herbal baru muncul setelah pemakaian lama. 


  1. Jangan lupa barengi dengan pola hidup sehat.

  • Kurangi makanan asin 

  • Olahraga rutin, misalnya tiap hari jalan kaki 30 menit

  • Istirahat cukup, 8 jam sehari

  • Hindari makan berlebihan

  • Hindari stres berkepanjangan

  • Hindari kecapekan




Related Posts

Posting Komentar

Masukkan email Anda di sini